
JEMBER – Mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Polije) mengembangkan inovasi pertanian melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Riset tersebut memanfaatkan bakteri dari larva Lepidiota stigma atau uret.
Melalui skema PKM-Riset Eksakta, tim mengangkat penelitian tentang bakteri selulolitik asal larva Lepidiota stigma. Tim menguji potensinya sebagai agen biokontrol Xanthomonas oryzae dan Xanthomonas campestris.
Penelitian tersebut juga mengkaji potensi bakteri untuk membantu proses bioremediasi residu pestisida. Dosen pembimbing penelitian adalah Gallyndra Fatkhu Dinata, S.P., M.P.
Ketua tim, Anas Kamal Satria, mengatakan ide penelitian muncul dari ketertarikan terhadap mikroorganisme asal uret. Menurutnya, mikroorganisme tersebut berpotensi mendukung praktik pertanian berkelanjutan.
“Topik ini berangkat dari ketertarikan kami terhadap potensi bakteri dari uret. Kami melihat peluang pemanfaatannya untuk pertanian berkelanjutan,” ujar Anas, Selasa (18/8/2026).
Selanjutnya, tim meneliti potensi bakteri tersebut untuk menghadapi penyakit tanaman akibat genus Xanthomonas. Bakteri Xanthomonas oryzae dapat menyebabkan hawar daun pada tanaman padi.
Sementara itu, Xanthomonas campestris pv. campestris menyebabkan penyakit busuk hitam pada tanaman kubis. Kedua penyakit tersebut dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan produktivitas tanaman.
Di sisi lain, uret dikenal sebagai hama tanaman perkebunan pada fase muda. Namun, larva tersebut juga menyimpan mikroorganisme yang berpotensi menghasilkan enzim dan metabolit tertentu.
Karena itu, tim mengembangkan bakteri asal uret sebagai kandidat agen biokontrol. Tim juga mengkaji kemampuannya dalam membantu mengurangi residu pestisida pada lingkungan pertanian.
“Melalui riset ini, kami berharap menghadirkan solusi ramah lingkungan untuk mengendalikan penyakit tanaman. Kami juga ingin membantu menurunkan residu pestisida,” kata Anas.
Tim terdiri atas Anas Kamal Satria, Risma Azizatur Rofiqoh, Rizqiyatul Mauluda H, Hanni Syafia Rahmawati, dan Naufal Abid Rizqon.
Melalui PKM, mahasiswa tidak hanya melakukan penelitian. Mereka juga mengembangkan gagasan untuk menjawab persoalan pertanian melalui pendekatan berbasis mikroorganisme lokal.
Tim berharap penelitian tersebut dapat berkembang menjadi inovasi yang bermanfaat bagi petani. Riset ini juga diharapkan mendukung pengendalian penyakit dan pertanian yang lebih berkelanjutan.