
NGAWI — Data digital Posyandu di Ngawi menunjukkan tingginya kasus hipertensi pada kelompok lanjut usia. Aplikasi SERASI mencatat 71,3 persen lansia mengalami tekanan darah tinggi.
Temuan tersebut berasal dari riset tim Manajemen Informasi Kesehatan Politeknik Negeri Jember (Polije) PSDKU Ngawi. Tim peneliti melibatkan Budi Fajar Supriyanto, Riska Fajar Fatony, Nesa Ayu Murthisari Putri, dan Elsa Tursina.
Tim menganalisis data 129 lansia yang aktif dalam aplikasi SERASI Posyandu Ngawi. Hasilnya, 92 lansia mengalami hipertensi, sedangkan 37 lainnya memiliki tekanan darah normal.
“Dari total lansia yang diperiksa, 92 orang mengalami hipertensi,” ungkap Budi Fajar Supriyanto. Ia menyebut 37 lansia atau 28,7 persen memiliki tekanan darah normal.
Analisis menunjukkan obesitas berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi pada lansia. Lansia dengan obesitas memiliki risiko hipertensi hingga 3,16 kali lebih tinggi.
Faktor psikologis juga menunjukkan hubungan dengan risiko hipertensi. Lansia yang mengalami stres, kesepian, atau kecemasan memiliki risiko 2,58 kali lebih tinggi.
“Jika stres berlangsung terus-menerus, lonjakan tekanan darah dapat berkembang menjadi tekanan darah tinggi menetap,” jelas Budi. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perhatian keluarga terhadap kesehatan mental lansia.
Sementara itu, pola makan belum menunjukkan pengaruh signifikan dalam analisis. Tim mengaitkan temuan tersebut dengan keterbatasan sistem dalam mencatat rincian konsumsi garam dan asupan gizi harian.
Selain menghasilkan data kesehatan, SERASI membantu Posyandu mengelola rekam medis secara digital. “Kader Posyandu sebelumnya menggunakan register kertas yang rentan rusak atau hilang,” ujar Budi.
Menurutnya, sistem digital kini menyimpan rekam kesehatan lansia secara lebih terstruktur. Temuan tersebut sekaligus menunjukkan peluang digitalisasi Posyandu untuk memperkuat pemantauan kesehatan lansia di Ngawi.