POLIJE SIAPKAN TEACHING FACTORY BERSTANDAR INDUSTRI

Diapresiasi Dirjen Kelembagaan Kemenristekdikti

Direktur Jenderal Kelembagaan Kemenristekdikti Dr. Ir. Patdono Suwignjo, M.Eng.Sc kemarin, berkesempatan melakukan kunjungan kerja ke kampus Politeknik Negeri Jember (Polije) khususnya melihat dari dekat perkembangan Pusat Unggulan Teknologi (PUT) yang juga merupakan teaching factory (tefa).

Tefa merupakan keharusan bagi perguruan tinggi vokasi sebagai sarana menguatkan ketrampilan dan kompetensi lulusannya. PT vokasi  mempunyai kekuatan atau keunggulan sebagai pembeda dibanding PT Akademik.

Demikian dipaparkan oleh Patdono Suwignjo ketika diwawancarai media. “Pengembangan TEFA yang berstandar industry bagi PT vokasi sangat amat penting dan strategis, untuk menghasilkan kompetensi yang selaras dengan kebutuhan industry pula”, paparnya.

Menurut Patdono, Polije sebagai pioneer dan pelopor Politeknik yang sudah mempunyai serta mengembangkan TEFA yang berstandar industry. Setelah meninjau beberapa TEFA, Patdono menyatakan kepuasannya serta memberikan aprsiasi atas keberadaan TEFA milik Polije yang sudah berjalan, apalagi setelah dikembangkan dalam satu kawasan TEFA, hasilnya sangat baik.

Kunjungan Patdono, diawali dari TEFA Smart Green House (SGH). Yang saat inis sedang dikembangan tanaman melon berbagai jenis. Di area SGH Patdono melihat perkembangan tanaman Melon yang sangat subur, dengan pengendalian sistemnya berbasis teknologi informasi mulai pengontrolah suhu, PH tanah, pemupukan dan lain sebagainya. Selanjutnya kunjungan dilanjutkan ke TEFA Bakery serta mengamati proses perkembangan pembangunan fish canning (pabrik pengalengan ikan) yang berada di sebelah TEFA Bakery.

Dalam diskusi setelah berkeliling ke fasilitas TEFA, Patdono menyampaikan bahwa Kemenristekdikti mulai periode 2019 hingga 2024 akan lebih berkosentrasi pada revitalisasi pendidikan vokasi. “Mulai tahun 2017 saya tidak mengeluarkan ijin baru terkait pendirian universitas, Sebaliknya ijin hanya diberikan untuk pendirian politeknik atau minimal institut teknologi,” ujar Patdono Suwignjo

Polije dalam program hibah kompetisi revitalisasi, telah mengembangkan beberapa PUT, yakni  PUT Pengolahan dan Pengemasan Pangan, PUT Produksi Pertanian, PUT Peternakan, dan PUT Informatika. Keberadaan PUT pengolahan dan pengemasan pangan diwujudkan dalam bentuk TEFA Bakery dan Fish Canning, PUT Produksi Pertanian diwujudkan dalam bentuk SGH, sedangkan PUT Peternakan diwujudkan dalam bentuk Feedlot (penggemukan Sapi).

Pada kesempatan yang sama, dia juga mendorong agar Polije mengembangkan dan melakukan tugas-tugas secara tepat agar beberapa tahun mendatang Polije  lebih unggul dan menjadi rujukan  bagi politeknik yang lain. “Saya berharap Polije bisa menjadi rujukan pengembangan PUT atau TEFA bagi perguruan tinggi vokasi lainnya,” tandas Patdono.

Dalam aspek pengembangan PUT Bakery dan Coffea serta secara geografi, Jember sebagai area salah satu sentra budidaya Kopi dan Kakao di Indonesia, apalagi mulai tahun akademik 2020, Polije yang akan membuka program studi baru Produksi Kopi, maka Polije mempunyai peluang sebagai Pusat Pengolahan Kopi dan Kakao di Indonesia.

Apalagi kesiapan Pusat penelitian (Puslit) Kopi dan Kakao yang berpusat di Jember bekerjasama dan dukungan pengembangan SDMnya dengan melibatkan Swiss Contact dalam peningkatan kompetensinya melalui kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan vokasi. Menanggapi arahan tersebut, Saiful Anwar MP, Direktur Polije mengungkapkan kesepakatannya  terkait rencana bahwa Polije siap menjadi Pusat Food Prossesing pengolahan Kopi dan Kakao. “Untuk menyiapkan pusat food prosesing kopi dan kakao  kita sudah menjalin kerjasama 3 lembaga yaitu dari pihak Kemristekdikti, Polije, dan Puslit Kopi dan Kakao serta dukungan Swiss Contact dengan program Skill for Competitiveness (S4C),” Paparnya.