JEMBER – Dosen Politeknik Negeri Jember (Polije) mendampingi Kelompok Tani Kopi di Dusun Tetelan, Desa Seputih, Kecamatan Mayang, Jember. Mereka fokus meningkatkan kualitas pengolahan pascapanen kopi robusta melalui penyuluhan dan praktik langsung.
Tim pengabdian terdiri atas Ir. Dian Hartatie, M.P., Hatmiyarni Tri Handayani, S.TP., M.Sc., Ir. Ujang Setyoko, M.P., Ir. Budi Prasetyo, S.Pt., M.P., IPM., dan Ir. Titien Fatimah, M.P. Para dosen berasal dari bidang Produksi Tanaman Perkebunan, Pengelolaan Perkebunan Kopi, Budidaya Tanaman Perkebunan, dan Peternakan.
Tim mengajak petani memperbaiki setiap tahap pengolahan kopi. Pendampingan tersebut mencakup pemilihan buah, pengolahan green bean, pengeringan, hulling, sortasi, hingga pengolahan kopi bubuk.
Koordinasi Awali Program Pendampingan
Tim mengawali kegiatan dengan berkoordinasi bersama Pemerintah Desa Seputih dan kelompok tani. Mereka membahas tujuan, tahapan, serta bentuk pendampingan sesuai kebutuhan petani.
Pemerintah Desa Seputih menyambut positif program tersebut. Pemerintah desa juga membuka peluang kerja sama untuk kegiatan pengabdian berikutnya.
Setelah koordinasi, tim menggelar sosialisasi bagi kelompok tani. Materinya mencakup pengolahan buah kopi menjadi green bean, pembuatan kopi bubuk, dan pemanfaatan teknologi tepat guna.
Petani Terapkan Panen Petik Merah
Tim mengajak petani menerapkan metode selective picking saat panen. Petani hanya memetik buah yang sudah matang sempurna dengan ciri kulit merah cerah dan kondisi buah yang baik.
Menurut Ir. Ujang Setyoko, M.P., kualitas bahan baku sangat menentukan mutu kopi. Karena itu, petani perlu menyiapkan wadah bersih, alas penampung, karung, dan sarung tangan sebelum memulai panen.
Petani membiarkan buah hijau dan kuning hingga matang. Mereka juga memisahkan buah hitam, busuk, dan terserang hama dari hasil panen.
Petani perlu menghindari strip picking karena cara tersebut mencampurkan buah dengan tingkat kematangan berbeda. Setelah panen, petani menaruh buah di tempat bersih dan teduh sebelum mengolahnya.
“Petani perlu segera mengolah buah kopi, maksimal 8–12 jam setelah panen. Cara ini menjaga kualitas bahan baku dan mencegah kerusakan,” ungkap Ujang.
Tim Perkuat Pengolahan Green Bean
Tim melatih petani melakukan sortasi buah kopi menggunakan ember atau bak berisi air. Petani memisahkan buah yang mengapung dan memilih buah yang tenggelam sebagai bahan baku utama.
Tim juga mengenalkan wadah food grade untuk menjaga kebersihan selama proses pengolahan. Selanjutnya, petani mengupas kulit buah menggunakan alat kneuzer manual.
Ir. Titien Fatimah, M.P., memberikan materi mengenai proses fermentasi. Petani memasukkan biji kopi ke dalam ember plastik atau karung bersih selama 12–36 jam.
Durasi fermentasi bergantung pada kondisi suhu lingkungan. Petani juga mempelajari risiko fermentasi berlebih dan pengaruhnya terhadap cita rasa kopi.
Setelah fermentasi, petani mencuci biji kopi menggunakan air bersih. Mereka perlu menjaga kebersihan air dan peralatan untuk mengurangi risiko jamur serta mempertahankan mutu biji.
Pengeringan Jaga Kualitas Biji Kopi
Tim melatih petani melakukan pengeringan dengan teknologi sederhana. Mereka menggunakan para-para bambu, terpal jemur, dan rak pengering untuk membantu proses tersebut.
Petani menjemur biji kopi selama 7–14 hari sesuai kondisi cuaca. Mereka juga membalik biji secara berkala agar seluruh bagian mengering secara merata.
Tim menargetkan kadar air biji sekitar 12 persen setelah proses pengeringan. Petani kemudian mempelajari ciri biji yang kering optimal, teknik penyimpanan, dan pengaruh kadar air terhadap daya simpan kopi.
Ir. Budi Prasetyo, S.Pt., M.P., IPM., turut memberikan solusi atas keterbatasan mesin huller. Ia mendorong kelompok tani menjalin kerja sama dengan kelompok lain atau pelaku UMKM kopi yang memiliki mesin tersebut.
Kelompok tani juga dapat membeli alat secara kolektif atau menyewa mesin sesuai kebutuhan. Petani perlu memastikan kadar air biji sebelum melakukan hulling untuk mengurangi risiko biji pecah.
Setelah hulling, petani melakukan sortasi akhir. Mereka memilah biji berdasarkan ukuran, warna, cacat fisik, biji pecah, dan biji hitam menggunakan screen grader atau secara manual.
Kopi Bubuk Tingkatkan Nilai Tambah
Selain green bean, tim mendorong petani mengembangkan produk kopi bubuk. Hatmiyarni Tri Handayani, S.TP., M.Sc., memberikan materi mengenai pengolahan kopi hingga siap konsumsi.
Selama ini, petani Dusun Tetelan lebih banyak menjual kopi dalam bentuk buah, kopi gabah, dan sebagian green bean. Mereka belum banyak mengolah hasil panen menjadi kopi bubuk.
Kondisi tersebut membuat nilai tambah kopi masih terbatas. Pelaku usaha di luar desa justru memperoleh keuntungan dari proses penyangraian dan pengemasan.
Karena itu, tim mendorong kelompok tani mengembangkan usaha kopi bubuk. Langkah tersebut dapat meningkatkan pendapatan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Pengolahan kopi di tingkat petani juga dapat memperkuat kemandirian kelompok. Produk olahan lokal pun memiliki peluang lebih besar untuk bersaing di pasar.
Polije Kenalkan Teknologi Tepat Guna
Ir. Ujang Setyoko, M.P., menjelaskan bahwa tim memilih teknologi sesuai kondisi kelompok tani. Mereka mengutamakan peralatan yang sederhana, ekonomis, dan mudah dioperasikan.
Pendekatan tersebut membantu petani menggunakan peralatan secara mandiri. Langkah ini juga menjawab keterbatasan sarana pengolahan green bean dan kopi bubuk di kelompok tani.
Melalui pendampingan tersebut, Polije mendorong petani meningkatkan keterampilan dan efisiensi pengolahan. Tim juga menargetkan peningkatan mutu serta nilai ekonomi kopi robusta lokal.
“Harapannya, masyarakat tidak hanya menghasilkan bahan baku berkualitas. Mereka juga mulai mengembangkan produk olahan yang memiliki daya saing dan nilai ekonomi lebih tinggi,” kata Ir. Dian Hartatie, M.P., ketua tim pengabdian.