
JEMBER – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Politeknik Negeri Jember mendorong digitalisasi usaha kriya bambu di Kampung Wisata Keseh, Desa Arjasa. Tim menghadirkan E-Katalog Interaktif dan sistem digital untuk menghitung Harga Pokok Produksi (HPP).
Desa Arjasa berjarak sekitar 8 kilometer dari kampus Polije dan meraih predikat Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Kampung Keseh mengembangkan berbagai produk bambu seperti gazebo, meja, kursi, suvenir, dan dekorasi rumah.
Pengrajin masih menghadapi kendala dalam pencatatan keuangan dan penghitungan HPP. Pemasaran juga masih mengandalkan transaksi langsung dan kunjungan wisatawan.
Tim PkM yang diketuai Arisona Ahmad, S.E., M.S.A., Ak., bersama Taufiq Rizaldi, S.ST., M.T., Endro Sugiartono, S.E., M.M., Sugeng Hartanto, S.E., M.Akun., dan Luluk Cahyo Wiyono, S.Sos., M.Sc., menghadirkan sistem Interaktif Agro-Creative Hub.
Arisona mengatakan tim merancang sistem tersebut untuk membantu pengrajin mengelola usaha dan memperluas pemasaran.
“Digitalisasi ini kami arahkan agar pengrajin dapat mengelola usaha dengan lebih mudah, mulai dari menghitung biaya produksi hingga memasarkan produk,” ujarnya.

Sistem tersebut menyediakan kalkulasi HPP berbasis spreadsheet digital. Tim juga mengembangkan E-Katalog Interaktif yang terhubung dengan media sosial, marketplace Shopee, dan pemesanan melalui WhatsApp.
Tim turut memasang QR-Code pada setiap produk. Wisatawan dapat memindai kode tersebut untuk melihat informasi, harga, dan spesifikasi produk melalui ponsel.
Ketua UMKM Kriya Bambu, Juma’an, menilai program tersebut membantu pengelolaan usaha dan produksi.
“Dukungan sistem keuangan dan pemasaran serta alat produksi sangat mendukung usaha kita. Alat yang diberikan juga membantu dan mempersingkat waktu pengerjaan,” katanya.
Program PkM ini mendorong pengrajin mengelola keuangan, produksi, dan pemasaran secara lebih terintegrasi. Tim juga mendampingi mitra agar mampu menjalankan teknologi secara mandiri dan mengembangkan pemasaran kriya bambu secara berkelanjutan.