JEMBER – Mengolah cabai rawit menjadi produk kering dan tepung membutuhkan waktu serta penanganan yang tepat. Untuk membantu proses tersebut, Politeknik Negeri Jember (Polije) mengembangkan alat pengering dan penggiling cabai rawit berbasis PLC Outseal Nano.
Inovasi ini berangkat dari kendala pengolahan cabai secara tradisional. Selain membutuhkan waktu lama, proses penjemuran konvensional juga bergantung pada cuaca dan berisiko mengurangi kebersihan produk.
Dosen Polije, Salsabila Liandra Putri, S.KM., M.K.K.K., membimbing pengembangan alat tersebut bersama empat mahasiswa. Mereka terdiri atas Ahmad Rizaldi Maulana, Iqbal Dwi Firmansyah, Moh. Alfin Anwar Anas, dan Hiftahul Huda.
Dalam proses pengembangannya, tim mengintegrasikan PLC Outseal Nano dengan sensor suhu, heater, kipas DC, dan motor. Kombinasi komponen tersebut mengatur proses pengeringan sebelum cabai memasuki tahap penggilingan.
“Alat pengering dan penggiling cabai ini kami rancang untuk mempermudah perajin mengolah hasil panen secara otomatis dan higienis,” ujar Salsabila Liandra Putri.
Untuk memastikan setiap komponen bekerja sesuai rancangan, tim melakukan pengujian fungsional pada sistem otomasi. Hasil pengujian menunjukkan PLC Outseal Nano mampu menjalankan fungsi sistem sesuai perancangan.
Anggota tim mahasiswa, Ahmad Rizaldi Maulana, menjelaskan manfaat teknologi tersebut bagi pengolahan cabai.
“Penerapan teknologi ini terbukti membebaskan petani dari ketergantungan pada metode penjemuran konvensional yang rentan terhadap cuaca,” ungkap Rizaldi.
Melalui sistem terpadu ini, pengguna dapat mengeringkan sekaligus menggiling cabai dengan bantuan otomasi. Dengan begitu, proses pengolahan berpotensi menjadi lebih praktis dan membantu pelaku usaha menjaga konsistensi produk.
Selain mempermudah proses produksi, inovasi ini berpeluang meningkatkan nilai tambah cabai rawit sebagai komoditas hortikultura. Meski demikian, pengujian lanjutan tetap diperlukan untuk mengukur waktu pengolahan, kapasitas produksi, dan kualitas produk akhirnya.
Melalui riset tahun 2026 ini, Polije mendorong penerapan teknologi terapan untuk mendukung agroindustri. Ke depan, alat tersebut diharapkan membantu petani dan perajin mengolah cabai rawit secara lebih efisien.