Tingkatkan Daya Saing Mawar Karangpring, Tim Polije Terapkan GAP dan GHP Berbasis TEFA

JEMBER – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Jember (Polije) menginisiasi program penguatan kapasitas petani bunga mawar di Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember.

Program tersebut mengusung tema penguatan daya saing melalui hilirisasi Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP) berbasis Teaching Factory (TEFA). Tim menjalankan program tersebut mulai Mei hingga Desember 2026.

Ketua tim, Ir. Muhammad Zayin Sukri, M.P., memimpin kegiatan bersama empat dosen lintas disiplin dan mahasiswa. Polije mendanai kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tersebut melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Tahun 2026.

Perkuat Standar Budidaya dan Pascapanen Mawar

Desa Karangpring menjadi salah satu sentra budidaya mawar di Kabupaten Jember. Petani Karangpring memasok bunga ke Jember, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, Banyuwangi, hingga Besuki.

Tim menemukan sejumlah aspek budidaya yang masih membutuhkan penguatan pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Nawasena. Petani masih perlu meningkatkan konsistensi pemangkasan, pemupukan, sanitasi lahan, serta pemantauan hama dan penyakit.

Kondisi tersebut memengaruhi keseragaman pertumbuhan, ukuran bunga, warna, dan kekuatan tangkai. Petani juga perlu memperbaiki penanganan bunga setelah panen untuk mempertahankan kesegaran dan nilai jual.

Petani belum menerapkan proses sortasi dan grading secara konsisten. Mereka juga perlu menentukan tingkat kematangan panen dengan indikator visual yang lebih seragam.

Ketua Tim Pengabdi Polije, Ir. Muhammad Zayin Sukri, M.P., mengatakan tim mengarahkan program untuk menggabungkan pembelajaran dan praktik lapangan.

“Petani tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga melihat dan mempraktikkan langsung standar budidaya dan penanganan bunga melalui pendekatan Teaching Factory,” ujar Zayin.

TEFA Nursery dan Bunga Potong Jadi Pusat Praktik

Tim Polije memanfaatkan TEFA Nursery dan Bunga Potong Polije sebagai pusat percontohan dan pembelajaran praktis. Fasilitas tersebut mempertemukan kompetensi pendidikan vokasi dengan kebutuhan produksi petani.

Melalui pendekatan TEFA, mahasiswa dan dosen dapat menerapkan kompetensi secara langsung. Petani juga memperoleh contoh praktik yang dapat mereka adaptasi di lahan masing-masing.

Tim memberikan pelatihan mengenai pemangkasan tajuk, sanitasi lahan, pemupukan terukur, dan penentuan stadia panen. Tim juga melatih petani melakukan sortasi, grading, serta menjaga kebersihan wadah penyimpanan.

Selain pelatihan, tim menyusun SOP teknis dan buku saku pencatatan mutu harian. Dokumen tersebut membantu petani menjaga konsistensi proses produksi dan mencatat perkembangan kualitas bunga.

“Melalui TEFA, kami ingin menciptakan proses belajar dua arah. Mahasiswa dan dosen menerapkan kompetensinya, sementara petani memperoleh pengalaman yang bisa langsung diterapkan di lahan,” kata Zayin.

Targetkan Mutu dan Daya Saing Mawar Meningkat

Tim menargetkan KWT Nawasena meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis minimal 80 persen melalui program tersebut. Tim juga menargetkan penurunan kerusakan fisik bunga setelah panen sekurang-kurangnya 20 persen.

Program ini mendorong petani meningkatkan kualitas produksi sekaligus memperkuat daya saing mawar Karangpring. Kegiatan tersebut juga memperkuat peran perempuan tani dalam pengembangan ekonomi lokal.

Polije mengintegrasikan kegiatan tersebut dengan semangat pendidikan vokasi yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Pendekatan tersebut sekaligus mendukung penguatan pertanian berkelanjutan dan ekonomi masyarakat desa.

Program ini juga mendukung pencapaian sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Fokusnya mencakup kesetaraan gender, pertumbuhan ekonomi, serta penguatan sektor pertanian berkelanjutan.