
Memisahkan daging ikan dari tulangnya atau teknik fillet ternyata tidak serumit anggapan banyak orang. Dosen Teknologi Industri Pangan Politeknik Negeri Jember (Polije), Aulia Brilliantina, mengungkapkan bahwa penggunaan pisau dapur biasa pun mampu menghasilkan potongan yang bersih dan minim duri.
Aulia menjelaskan bahwa kunci sukses fillet bukan terletak pada mahalnya alat, melainkan pada pemahaman anatomi ikan. Meskipun tersedia pisau khusus, peralatan dapur rumahan sudah cukup memadai asalkan penggunanya mengetahui struktur tubuh dan arah tulang ikan tersebut.
“Ada pisau khusus untuk fillet, tapi di rumah pisau dapur biasa juga bisa. Yang penting kita tahu struktur tubuh ikan dan arah tulangnya,” ujar Aulia Brilliantina.
Proses pengerjaan dimulai dengan menyiangi sisik hingga bersih, lalu memotong bagian pinggir insang dan leher. Setelah itu, pelaku fillet harus menekan perut ikan secara perlahan untuk mengeluarkan isinya kemudian membilasnya sampai benar-benar higienis.
Selanjutnya, tahap pemotongan dimulai dengan memosisikan ikan secara telungkup. Pisau harus diarahkan miring ke belakang kepala, lalu digerakkan secara perlahan menuju arah ekor mengikuti rangka tulang tanpa perlu menekannya terlalu keras.
“Pisau harus sejajar dengan tulang, bukan menusuk ke dalam. Biarkan pisau ‘berjalan’ mengikuti rangka ikan agar daging tetap utuh,” jelas Aulia menambahkan teknis pengerjaannya.
Oleh karena itu, kepekaan tangan sangat berperan penting saat pisau bertemu dengan duri ikan. Tekstur ikan laut yang halus menuntut sentuhan lembut agar daging tidak robek, sehingga hasil fillet tampak rapi dan profesional.
Akhirnya, teknik ini membuktikan bahwa keterampilan dapur yang mumpuni dapat dilakukan oleh siapa saja di rumah. Dengan ketelitian dan kesabaran, masyarakat dapat mengolah ikan secara mandiri tanpa harus bergantung pada peralatan profesional yang mahal.