
Politeknik Negeri Jember (Polije) memperingati Hari Bumi 2026 dengan mengonversi limbah organik menjadi pakan ternak melalui budidaya maggot, Rabu (22/04/2026). Langkah inovatif ini menjadi bagian dari strategi besar kampus dalam mewujudkan ekosistem pendidikan yang hijau dan berkelanjutan.
Ketua Tim SDGs Polije, Wendy Triadji Nugroho, menyatakan bahwa program ini membiasakan mahasiswa untuk peduli pada kelestarian lingkungan. Selain teori, mahasiswa juga terjun langsung memilah sampah padat dan cair di TPST Polije.
“Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan Hari Bumi di Polije dengan tema inovasi kampus hijau berkelanjutan,” kata Wendy.
Kemudian, Wendy mengungkapkan bahwa inovasi ini mampu menghasilkan keuntungan finansial bagi pelaku budidaya. Mahasiswa dapat memanfaatkan maggot sebagai produk ekonomis bernilai tinggi.
“Budidaya maggot bertujuan mengurangi timbulan sampah sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi mahasiswa,” jelas Wendy.
Selain itu, ia meyakini bahwa penguasaan keahlian ramah lingkungan menjadi bekal penting bagi lulusan. Hal ini bertujuan agar mahasiswa lebih siap bersaing di pasar tenaga kerja masa depan.
“Kami mempersiapkan mahasiswa agar mereka mampu menghadapi peluang kerja di bidang green jobs,” tambah Wendy.
Sementara itu, Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan, Wahyu Kurnia Dewanto, menilai aksi ini sebagai langkah strategis dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Pihaknya merangkul seluruh elemen mahasiswa agar budaya peduli lingkungan semakin mengakar.
“Fokus utama kegiatan adalah pengelolaan sampah melalui inovasi bank sampah dan pemanfaatan maggot,” tutur Wahyu.
Selanjutnya, Wahyu meyakini kontribusi aktif para mahasiswa akan meningkatkan prestise kampus di tingkat dunia. Program ini menjadi poin penting dalam penilaian kualitas lingkungan institusi secara global.
“Langkah ini sangat strategis karena mendukung upaya peningkatan peringkat UI GreenMetric Politeknik Negeri Jember,” tegas Wahyu.
Terakhir, ia menegaskan bahwa aksi pelestarian ini harus berjalan secara konsisten setiap hari. Pihak kampus berkomitmen mengintegrasikan sistem pengelolaan limbah ini ke dalam kurikulum dan operasional sekolah.
“Harapannya, kegiatan ini terus berlanjut dan terintegrasi agar pengelolaan limbah kampus berjalan lebih optimal,” pungkas Wahyu.