Musim durian selalu menghadirkan buah manis, tetapi juga meninggalkan masalah serius berupa tumpukan kulit durian. Limbah itu menimbulkan bau menyengat, menarik lalat, dan sering berakhir di tempat pembuangan akhir. Tim dosen Politeknik Negeri Jember (Polije) langsung merespons persoalan ini dengan mengolah kulit durian menjadi arang aktif bernilai ekonomi sekaligus memanfaatkan energi surya untuk mengendalikan hama.
Tim dosen yang terdiri atas Setyo Andi Nugroho, Risse Entikaria Rachmanita, dan Devina Cinantya Anindita menggagas program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan dukungan hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM). Mereka melibatkan warga Desa Klungkung, Kabupaten Jember, dalam praktik langsung mengolah limbah sekaligus memanfaatkan teknologi ramah lingkungan.
“Indonesia ini punya durian yang berlimpah, otomatis kulitnya juga melimpah. Kalau dibiarkan, hanya jadi sampah. Tapi kalau diolah, kulit durian bisa jadi arang aktif yang memiliki nilai jual,” jelas Setyo Andi.
Tim melatih warga membuat arang aktif dengan tahapan sederhana. Warga mengeringkan kulit durian, membakarnya pada suhu 350–400°C selama satu jam, mengayak hasilnya dengan saringan 100 mesh, lalu mengaktivasi arang dengan bahan kimia. Hasilnya, mereka menghasilkan arang aktif yang bisa dipakai untuk menyerap bau, menyaring air, hingga menjadi bahan industri makanan, kosmetik, dan farmasi.
Warga Desa Klungkung menyambut pelatihan ini dengan antusias. Ibni, Ketua Kelompok Tani Hutan Santoso, mengaku pelatihan tersebut membuka wawasan baru.
“Selama ini kulit durian hanya ditumpuk dan dibuang, baunya sangat mengganggu. Setelah ikut pelatihan, saya tahu kulit durian bisa diolah jadi arang aktif. Bahkan kami juga belajar cara pengemasan dan pemasarannya,” katanya.
Tim juga membekali warga strategi pemasaran melalui media sosial dan marketplace agar produk menjangkau pasar lebih luas.
Selain mengolah limbah, tim Polije mengenalkan teknologi panel surya untuk perangkap hama durian. Mereka memanfaatkan energi matahari untuk menyalakan lampu perangkap yang menarik serangga. Dengan begitu, petani bisa mengendalikan hama tanpa pestisida kimia. Teknologi ini tidak hanya menjaga kualitas buah, tetapi juga melindungi lingkungan.
Program ini menghasilkan manfaat ganda: warga memperoleh tambahan penghasilan, lingkungan menjadi lebih bersih, dan produktivitas durian tetap terjaga.
“Inovasi ini bukti bahwa pertanian modern tidak sekadar meningkatkan produksi, tetapi juga menjaga keberlanjutan. Dari yang semula dianggap sampah, ternyata bisa jadi berkah,” tegas Setyo.