
Politeknik Negeri Jember (Polije) mendorong peningkatan produktivitas kopi robusta melalui penerapan teknologi rejuvinasi atau peremajaan tanaman di kebun koleksi kampus. Tim pengabdian Polije melakukan langkah ini untuk memulihkan tanaman kopi tua yang tidak lagi produktif sekaligus mendukung kegiatan praktikum, penelitian, dan produksi kopi.
Indonesia menjadi salah satu produsen kopi utama dunia dengan 96 persen perkebunan dikelola oleh perkebunan rakyat. Sekitar 74 persen dari total luas perkebunan kopi nasional merupakan kopi robusta, sehingga komoditas ini memegang peran penting dalam perekonomian nasional.
Rejuvinasi Jadi Solusi Tanaman Kopi Tua
Banyak tanaman kopi robusta di kebun rakyat maupun kebun koleksi kampus telah memasuki usia tua. Kondisi tersebut menurunkan produktivitas karena cabang tidak sehat, sirkulasi udara buruk, dan pencahayaan kurang optimal.
Melalui rejuvinasi, tim Polije mempercepat peremajaan tanaman tanpa harus memulai dari proses pembibitan yang memakan waktu lama. Teknik ini memungkinkan tanaman kembali produktif dalam waktu dua hingga tiga tahun.

Pelatihan Langsung untuk Dosen, Mahasiswa, dan Teknisi
Ketua Tim Rejuvinasi Polije, Ir. Dian Hartatie, M.P., memimpin pelatihan yang menggabungkan diskusi forum dan praktik lapangan.
“Kami melatih dosen, mahasiswa, dan teknisi agar mampu melakukan pemeliharaan dan rejuvinasi tanaman kopi robusta secara benar, khususnya di kebun koleksi Polije,” ujarnya.
Tim menerapkan teknik ini pada klon-klon lama seperti BP 42, BP 234, BP 409, dan BP 534 yang umum digunakan petani.
Teknik Pangkas Total di Akhir Musim Kemarau
Berbeda dari praktik umum, tim Polije melakukan rejuvinasi di akhir musim kemarau. Petugas memangkas tanaman secara total pada ketinggian 50–60 sentimeter dengan sudut 45 derajat.
Tim kemudian menutup luka pangkasan untuk mencegah penguapan berlebih dan infeksi. Selanjutnya, mereka membentuk dua batang pokok yang kuat agar tanaman dapat kembali berproduksi optimal.
Hasil Evaluasi Tunjukkan Dampak Positif
Anggota tim, Hatmiyarni, menyampaikan bahwa tim melakukan evaluasi setelah pendampingan selesai.
“Peserta kini memahami penyebab kegagalan rejuvinasi dan mampu menerapkan perawatan yang benar agar tanaman kembali produktif dan berkualitas,” katanya.
Melalui sinergi antara teori akademik dan praktik lapangan, Polije berharap inovasi ini dapat menjadi rujukan bagi petani kopi rakyat dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas kopi robusta nasional secara berkelanjutan.