
Politeknik Negeri Jember (Polije) terus memperkuat komitmennya dalam mendorong transformasi pertanian berbasis teknologi melalui penyelenggaraan in-house training bagi dosen dan tenaga kependidikan (tendik), khususnya teknisi. Kegiatan pelatihan ini berfokus pada pengoperasian drone pertanian DJI Agras T40, sebagai bagian dari implementasi pertanian presisi di lingkungan akademik.
“In-house training ini ditujukan untuk dosen dan tendik, terutama teknisi, yang nantinya akan terlibat langsung dalam pengajaran mata kuliah pertanian presisi maupun pemeliharaan wilayah,” ujar Ir. Dwi Rahmawati, S.P., M.P., IPM., Ketua Jurusan Produksi Pertanian Polije.
Pelatihan ini menjadi langkah lanjutan setelah tahun sebelumnya Polije memperoleh satu unit drone DJI Agras T40 melalui program pengadaan. Drone tersebut kini ditempatkan di Jurusan Produksi Pertanian agar dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung proses pembelajaran dan pengembangan keterampilan dosen serta tendik.
“Beberapa alumni kita ternyata sudah dipercaya oleh perusahaan untuk mengoperasikan drone, padahal di kurikulum kita belum secara eksplisit diajarkan,” lanjut Dwi.
Pentingnya adaptasi dengan teknologi pertanian terbaru menjadi hal penting bagi dosen maupun tendik khusunya teknisi di Jurusan Produksi Pertanian Polije
“Karena itu, kami merasa penting untuk segera beradaptasi dengan teknologi ini agar dapat membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan dan dibutuhkan industri,” tambahnya.
Sebagai wujud keseriusan, tahun lalu Polije telah mengirim lima orang dosen dan tendik untuk mengikuti pelatihan dan memperoleh sertifikasi pilot drone. Tahun ini, kegiatan serupa kembali dilanjutkan dengan format pelatihan intensif selama tiga hari.
Fokus pelatihan kali ini mencakup teknik pemetaan lahan (mapping), penyemprotan otomatis, serta pengenalan fitur-fitur drone berbasis Internet of Things (IoT). Dalam pelatihan ini, Polije juga memanfaatkan dua unit drone lain milik Jurusan Teknologi Informasi, untuk memperkaya pengalaman peserta.
“Hari ini kami melatih sekitar 20 peserta yang terdiri dari dosen dan tendik. Masing-masing program studi mengirimkan perwakilannya. Meskipun drone yang kami miliki hanya satu, kami ingin semua dosen dan teknisi memahami cara pengoperasiannya sehingga bisa menularkan pengetahuan ini kepada mahasiswa,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, Polije menegaskan bahwa dunia pendidikan vokasi harus adaptif terhadap perkembangan teknologi terkini. Pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat kualitas SDM internal, mempercepat integrasi teknologi pertanian presisi dalam kurikulum, serta menciptakan lulusan yang kompeten dan siap bersaing di dunia kerja berbasis inovasi digital. (hnf)