Polije Dampingi BUMDes Setia Bakti Kembangkan Desa Agriculture Based Tourism (ABT)

Politeknik Negeri Jember (Polije) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung kemandirian desa melalui pendampingan BUMDes Setia Bakti di Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo. Tahun ini, Polije bersama BUMDes mengembangkan konsep Desa Agriculture Based Tourism (ABT) dengan fokus pada penguatan produksi silase dan pupuk organik.

BUMDes Setia Bakti telah menjadi binaan Polije selama empat tahun. Dari program pendampingan itu lahir berbagai produk inovasi, mulai dari silase berbahan limbah pertanian lokal hingga pupuk organik berbahan limbah peternakan. Konsistensi para peternak Selobanteng dalam mengolah potensi lokal inilah yang mendorong lahirnya ide pengembangan Desa ABT sebagai destinasi wisata berbasis pertanian.

Ketua pelaksana kegiatan, Nur Muhamad, S.Pt., M.Sc., menegaskan pentingnya penguatan produksi sebagai pijakan awal pengembangan Desa ABT.

“Kegiatan ini diharapkan memperkuat kemandirian peternak dalam menyediakan pakan melalui silase sekaligus menjaga kelestarian lingkungan lewat pemanfaatan limbah peternakan menjadi pupuk organik. Inilah dasar yang akan menopang pengembangan Desa ABT ke depan,” ujar Nur Muhamad.

Tim Polije juga melihat potensi besar Desa Selobanteng untuk berkembang menjadi desa wisata edukasi. Rizki Amalia Nurfitriani, S.Pt., M.Si., menyampaikan bahwa silase dan pupuk organik bukan hanya produk ekonomi, tetapi juga bisa menjadi daya tarik wisata berbasis edukasi.

“Wisatawan dapat belajar langsung bagaimana limbah pertanian dan peternakan diolah menjadi produk bernilai tambah. Ini akan menjadi keunggulan Desa ABT sekaligus memperkenalkan kearifan lokal Selobanteng,” jelas Rizki.

Sementara itu, kolaborasi dengan Universitas Merdeka Malang memperkuat konsep pengembangan wisata desa. Dr. Fitria Earlike Anwar Sani, SST.Par., MM., menegaskan pentingnya pendekatan pariwisata berbasis komunitas.

“ABT bukan sekadar produk wisata, tetapi gerakan bersama masyarakat. Ketika desa memiliki produk inovasi, seperti silase dan pupuk organik, wisata edukasi bisa tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan,” tutur Fitria.

Kegiatan penguatan dimulai dengan penyampaian materi mengenai teknik produksi silase dan pupuk organik, dilanjutkan sesi diskusi serta penyusunan rencana teknis. Dari pelatihan ini, peternak berhasil memproduksi 1 ton silase dan 2 ton pupuk organik.

Ke depan, Polije menegaskan bahwa pendampingan akan terus berlanjut hingga BUMDes Setia Bakti benar-benar terampil dalam mengembangkan Desa Agriculture Based Tourism (ABT) dan menjadikannya model bagi desa lain di Situbondo.