MAHASISWA POLIJE CIPTAKAN SABUN RAMAH LINGKUNGAN DARI LIMBAH KULIT KOPI, DORONG INOVASI DESA

Mahasiswa Prodi Promosi Kesehatan Politeknik Negeri Jember (Polije) yang tergabung dalam kelompok C2 Biokopakis berhasil menciptakan inovasi sabun ramah lingkungan berbahan dasar limbah kulit kopi. Inovasi ini ditampilkan dalam ajang Pameran Project Based Learning (PBL) Jurusan Kesehatan sebagai bentuk kontribusi nyata dalam pengelolaan limbah organik serta peningkatan produktivitas masyarakat.

Produk yang dihasilkan berupa sabun batang mandi dan detergen berbasis limbah kulit kopi, dengan tujuan utama mengurangi limbah organik, meningkatkan nilai tambah dari sisa hasil pertanian, serta menginspirasi masyarakat untuk mengolah limbah menjadi produk yang bermanfaat.

Salah satu anggota tim, Putri Rahmatika, menyampaikan bahwa sabun ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga aman bagi kulit.

“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah lokal seperti kulit kopi memiliki potensi besar jika diolah dengan tepat. Melalui sabun ini, kami berharap masyarakat semakin sadar bahwa pengelolaan limbah itu penting dan bisa bernilai ekonomis,” ujarnya.

Proses pembuatan sabun diawali dengan penimbangan bahan seperti minyak kelapa sawit, castor oil, VCO, dan NaOH. NaOH kemudian dilarutkan dengan air suling dan didinginkan. Selanjutnya, bahan minyak dicampur dalam satu wadah, lalu ditambahkan bubuk kulit kopi dan, bila perlu, bubuk kopi murni sebagai tambahan eksfoliator.

“Setelah itu, kami masukkan larutan NaOH sedikit demi sedikit sambil diaduk dengan hand mixer sampai adonan mengental dan padat. Setelah siap, adonan sabun dituangkan ke cetakan dan dibiarkan selama proses curing sekitar 2 hingga 4 minggu,” jelas Putri.

Untuk menjamin keamanan produk, sabun diuji menggunakan kertas lakmus dan mengahasilkan pH yang aman.

 “Kami pastikan pH sabun berada di angka 8 hingga 10 sesuai standar SNI, agar tetap aman digunakan untuk kulit,” tambahnya.

Inovasi ini tak hanya memperkenalkan produk baru yang ramah lingkungan, tetapi juga menanamkan semangat pemberdayaan masyarakat.

“Harapan kami, akan terbentuk masyarakat mandiri yang mampu mengelola limbah secara bijak, sekaligus mendorong munculnya inovasi berkelanjutan dari potensi desa,” tutup Putri.

Melalui inisiatif seperti ini, mahasiswa Polije membuktikan perannya sebagai agen perubahan yang mendorong lahirnya produk lokal berbasis keberlanjutan dan pengembangan ekonomi kreatif desa. (hnf)