
Dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional dan kebijakan makanan bergizi gratis dari Pemerintahan Prabowo, Indonesia terus mendorong peningkatan populasi ternak, termasuk sapi perah dan sapi potong. Hal ini tidak hanya membutuhkan impor indukan dalam jumlah besar, tetapi juga penguatan kapasitas sumber daya manusia serta penerapan praktik peternakan yang berkelanjutan dan berbasis sains.
Menjawab tantangan tersebut, Australia Awards in Indonesia menyelenggarakan kursus singkat bertajuk “Pasture, Feed and Water Management Practices to Improve Dairy Livestock Productivity”, yang berfokus pada pengelolaan padang rumput, hijauan, pakan, dan air untuk meningkatkan produktivitas peternakan sapi perah di Indonesia.
Kegiatan kursus diawali dengan sesi pre-course di Malang, yang menjadi wadah bertemunya para profesional dari berbagai latar belakang untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, serta membangun jejaring strategis dalam pengembangan sektor peternakan nasional. Salah satu peserta aktif dalam program ini adalah Ir. Agus Hadi Prayitno, S.Pt., M.Sc., IPM., dosen dari Jurusan Peternakan Politeknik Negeri Jember (Polije).
Dalam kesempatan tersebut, Agus Hadi mempresentasikan proyek penghargaan (award project) bertajuk “Enhancing Student Competence through Strengthening Learning Materials on Forage and Dairy Livestock Production”. Proyek ini bertujuan untuk memperkuat materi pembelajaran mahasiswa, khususnya dalam bidang hijauan makanan ternak dan produksi sapi perah, guna meningkatkan kompetensi lulusan yang siap bersaing di industri.
“Melalui penguatan materi ini, kami berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan tersebut secara praktis dan kontekstual di lapangan,” ujar Agus Hadi.
Program ini menghadirkan dua fasilitator utama dari Australia, yaitu Dr. Ben Mullen dan Dr. Dave Barber, yang memberikan materi komprehensif seputar sejarah dan perkembangan peternakan sapi perah di Australia, strategi pengelolaan padang rumput berkelanjutan, manajemen pakan berbasis nutrisi optimal, serta efisiensi penggunaan air dalam menunjang kesehatan dan produktivitas ternak.
Sesi kelas berlangsung sangat interaktif, dengan diskusi yang membahas secara kritis tantangan-tantangan utama sektor peternakan di Indonesia, mulai dari keterbatasan lahan pakan, fluktuasi harga susu, hingga isu keberlanjutan dan kesejahteraan hewan.

Sebagai bagian dari pembelajaran lapangan, para peserta juga melakukan kunjungan ke Greenfields Wlingi Dairy Farm, salah satu peternakan sapi perah modern yang menerapkan teknologi terkini dan praktik peternakan terbaik. Dipandu oleh Achmad Backtiar, peserta dapat menyaksikan secara langsung proses manajemen peternakan mulai dari pemilihan bibit, pengelolaan pakan, hingga pengolahan limbah.
“Melihat langsung praktik-praktik terbaik seperti ini sangat membuka mata. Inovasi dan efisiensi menjadi kunci untuk menjawab tantangan industri,” tuturnya.
Program ini bukan hanya memperkaya pengetahuan teknis para peserta, tetapi juga membangun semangat kolaboratif untuk mendorong transformasi sektor peternakan di Indonesia. Kegiatan akan berlanjut dengan kunjungan ke Griffith University di Australia pada bulan Juli 2025, sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan pertukaran ilmu global.
Keikutsertaan akademisi seperti Agus Hadi menjadi contoh konkret bagaimana dunia pendidikan tinggi dapat mengambil peran strategis dalam mendorong pembaharuan dan inovasi di sektor pertanian dan peternakan.
“Belajar, berbagi, dan berinovasi harus menjadi semangat bersama. Hanya dengan cara itu kita bisa memastikan masa depan peternakan sapi perah Indonesia yang lebih baik, berkelanjutan, dan kompetitif di pasar global,” pungkasnya.
Program seperti ini diharapkan dapat terus diperluas dan diintegrasikan dengan kebijakan nasional, sehingga mendorong transformasi nyata dari hulu ke hilir dalam pembangunan peternakan yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan jejaring internasional. (hnf)