Teknologi Mikro-Nano Ozon Dongkrak Mutu Ikan Tuna Ekspor

JEMBER – Kontaminasi bakteri memicu tingginya kadar histamin pada ikan tuna Indonesia. Masalah klasik pascapanen ini sering menjadi penyebab utama penolakan ekspor di pasar global. Menjawab tantangan tersebut, sektor akademisi kini mengembangkan inovasi ramah lingkungan berupa teknologi pencucian ikan menggunakan mikro-nano ozon.

“Teknologi mikro-nano ozon ini terbukti secara signifikan dapat mereduksi kandungan histamin. Alat ini juga efektif mendekontaminasi total bakteri pembusuk kualitas ikan,” ujar Ketua Tim Peneliti Politeknik Negeri Jember (Polije), Abi Bakri.

Menurut Abi, gelembung gas berukuran mikro hingga nano ini memiliki luas permukaan yang besar. Karakteristik tersebut membuat gelembung mampu bertahan lama di dalam air untuk menghancurkan sel bakteri. Metode ini juga bebas dari residu beracun karena seluruh sisa ozon akan terurai kembali menjadi oksigen normal.

“Kami sudah menerapkan mesin pencuci ini pada mitra industri perikanan Puger, yaitu UD Mitra Jaya Bahari. Laboratorium Analisis Pangan Polije juga sudah menguji kemampuan alat ini dalam mempertahankan kesegaran tuna,” tambah Abi.

Sementara itu, penerapan inovasi ini memiliki arti strategis yang besar bagi hilirisasi sektor kelautan nasional. Selain menekan tingkat kontaminasi, alat modern ini juga menjaga warna daging tetap cerah. Manfaat lainnya adalah menghilangkan bau amis serta memperpanjang masa simpan produk.

“Pelaku usaha yang berinvestasi pada teknologi keamanan pangan akan mendapat keuntungan lebih besar. Langkah ini jauh lebih baik daripada menanggung risiko penolakan produk di negara tujuan ekspor,” tegas Abi.

Melihat hasil positif tersebut, Abi menekankan pentingnya kolaborasi solid antara kampus, pemerintah, dan pelaku usaha. Dukungan berupa regulasi dan pendampingan berkala menjadi faktor penentu kemajuan industri. Semua pihak harus bergerak bersama untuk mempercepat transformasi industri perikanan nasional.

“Negara yang menghasilkan produk perikanan berkualitas tinggi dan ramah lingkungan pasti memenangi persaingan. Inovasi ini memberikan keunggulan kompetitif yang jauh lebih besar di perdagangan internasional,” pungkas Abi.