
Yogurt menjadi salah satu menu berbuka puasa yang semakin populer saat Ramadhan. Minuman fermentasi ini dikenal kaya probiotik dan mudah dicerna setelah seharian berpuasa.
Dosen Program Studi Teknologi Industri Pangan Politeknik Negeri Jember, Irene Ratri Andia Sasmita, S.TP., M.P., menjelaskan bahwa proses pembuatan yogurt dilakukan secara ilmiah dan terkontrol.
“Bulan Ramadhan adalah momen menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas konsumsi pangan. Yogurt menjadi pilihan karena kaya probiotik. Namun, di balik satu cup yogurt terdapat proses ilmiah yang terkontrol ketat,” ujarnya.
Irene menerangkan, proses dimulai dari standarisasi susu segar dengan mengontrol kadar lemak dan total padatan agar teksturnya konsisten. Selanjutnya, produsen memasteurisasi susu pada suhu 80–90 derajat Celsius selama 5–10 menit.
“Pasteurisasi membunuh mikroorganisme patogen dan membantu pembentukan tekstur kental yogurt. Keamanan pangan dimulai dari tahap ini,” jelasnya.
Setelah itu, susu didinginkan hingga sekitar 45 derajat Celsius lalu ditambahkan bakteri asam laktat Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus untuk memulai fermentasi. Selama 4–6 jam, pH turun hingga sekitar 4,5 sehingga terbentuk tekstur gel khas yogurt.
“Pengendalian suhu dan waktu sangat menentukan kualitas akhir produk,” katanya.
Ketika tingkat keasaman tercapai, produsen segera mendinginkan yogurt hingga 4 derajat Celsius untuk menghentikan fermentasi. Produk kemudian dikemas secara higienis dan disimpan dalam rantai dingin.
“Di balik setiap sendok yogurt, ada sains yang bekerja. Melalui pembelajaran di laboratorium, kami memastikan produk fermentasi aman dan berkualitas hingga sampai ke meja buka puasa,” pungkas Irene.