Tips Jaga Keuangan Tetap Aman Selama Ramadan

Ramadan sering memicu kenaikan pengeluaran rumah tangga secara mendadak. Lonjakan harga pangan dan tradisi buka bersama menjadi faktor utama kebocoran anggaran. Tanpa perencanaan matang, kondisi finansial bisa memburuk setelah hari raya tiba.

Koordinator Prodi Akuntansi Sektor Publik Polije, Arisona Ahmad, membagikan tips cerdas mengelola keuangan. Ia mengajak sivitas akademika menjadikan Ramadan sebagai momentum disiplin finansial. Ilmu akuntansi harus menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Ramadhan adalah momentum untuk memperkuat disiplin keuangan bagi seluruh mahasiswa dan pegawai,” ujar Arisona Ahmad.

Arisona menyarankan mahasiswa menerapkan sistem anggaran mingguan yang ketat. Mahasiswa harus memprioritaskan kebutuhan sahur daripada sekadar tren nongkrong berbayar. Mencatat pengeluaran harian membantu memantau sisa uang saku agar tidak cepat habis.

“Buka bersama boleh, tetapi tetap harus sesuai anggaran yang sudah direncanakan sejak awal,” imbuhnya.

Bagi pegawai, pengelolaan Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi poin sangat krusial. Arisona meminta pegawai tidak menghabiskan bonus hanya untuk konsumsi sesaat. Pembagian alokasi dana secara proporsional menjamin stabilitas keuangan keluarga.

“Jangan habiskan THR untuk konsumsi sesaat saja. Perencanaan baik hari ini memberikan ketenangan setelah Idul Fitri,” jelas Arisona.

Ia memperkenalkan prinsip 60-20-10-10 sebagai panduan praktis alokasi gaji. Gunakan 60% untuk kebutuhan pokok dan 20% bagi urusan ibadah sosial. Sisanya, alokasikan 10% untuk gaya hidup dan 10% sebagai tabungan masa depan.

“Ramadhan adalah latihan mengendalikan diri, termasuk dalam hal mengelola uang secara bijak,” tegasnya.

Kendalikan “lapar mata” saat mengunjungi bazar atau melihat promo belanja online. Arisona menyarankan warga kampus membuat daftar belanja sebelum pergi ke pasar. Hindari belanja saat perut lapar guna meminimalisir pembelian barang tidak perlu.

“Ingat bahwa diskon bukan berarti kebutuhan. Jangan terjebak pada keinginan konsumtif yang berlebihan,” tambah Arisona.

Ramadan merupakan saat terbaik memaksimalkan sedekah tanpa mengganggu arus kas pribadi. Perencanaan dana sosial sejak awal bulan mencegah kekurangan uang di akhir puasa. Efisiensi mencerminkan kualitas diri sebagai insan pendidikan vokasi yang cerdas.

“Disiplin mengelola keuangan adalah tanggung jawab moral dan profesional kita sebagai insan akademik,” ucapnya.

Prinsip utama keuangan Ramadan adalah sederhana dalam konsumsi namun maksimal dalam keberkahan. Penghematan dari pengurangan aktivitas non-esensial bisa dialihkan menjadi investasi produktif. Mari perkuat literasi keuangan agar ibadah tetap berjalan tenang dan nyaman.

“Semoga Ramadan tahun ini memperkuat literasi dan ketahanan keuangan kita semua,” pungkas Arisona.