
Di balik segelas susu segar yang dihasilkan dari Teaching Factory (Tefa) Milk Politeknik Negeri Jember (Polije), ada sosok muda yang konsisten menekuni bidang persusuan sejak masa kuliah. Dialah Hutama Puranto Aji, S.Pt., M.Pt., dosen muda Jurusan Peternakan Polije yang kini menjadi bagian penting dalam tim teknis Tefa Milk. Perjalanan hidupnya menggambarkan perpaduan antara semangat, dedikasi, dan cinta terhadap dunia pangan, khususnya pengolahan susu.
Dari Laboratorium ke Dunia Industri
Hutama mulai mengenal dunia persusuan saat menempuh pendidikan di Program Studi Peternakan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada tahun 2013. Sejak semester tiga, ia aktif sebagai asisten di Laboratorium Industri Pengolahan Hasil Ternak (IPHT), tempat yang memperkenalkannya pada proses pengolahan hasil ternak seperti daging, telur, dan terutama susu. Dari situlah ketertarikannya terhadap dunia olahan susu tumbuh kuat.
“Sejak pertama kali melihat proses pasteurisasi susu di laboratorium, saya langsung jatuh cinta pada bidang ini. Susu adalah produk yang hidup sehingga perlu ketelitian, sains, dan rasa tanggung jawab dalam setiap tahap pengolahannya,” kenangnya.
Perjalanannya berlanjut ke Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan, Jawa Barat, saat mengikuti program magang. Di sanalah ia belajar langsung dari industri pengolahan susu berskala besar, mulai dari pembuatan susu pasteurisasi, keju mozzarella, butter, hingga kerupuk susu.
Pada semester enam, Hutama dipercaya menjadi Ketua Laboratorium IPHT, pengalaman yang semakin memperdalam keahliannya. Tak heran, skripsinya pun berfokus pada susu dengan judul “Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Daun Cincau Hijau terhadap Kualitas Mikrobia Whey Cincau Susu.”
Menjadi Praktisi di Dunia Susu
Selepas meraih gelar sarjana pada tahun 2017, Hutama langsung terjun ke dunia industri. Ia bekerja sebagai Quality Control (QC) dan Research & Development (R&D) di CV. Cita Nasional, salah satu perusahaan pengolahan susu di Semarang, Jawa Tengah. Di sana, ia bertanggung jawab memastikan produk susu pasteurisasi memenuhi standar SNI, BPOM, dan Halal.
“Tugas utama saya adalah memastikan produk susu pasteurisasi tetap aman, sehat, utuh, dan halal. Kami menerapkan sistem HACCP dan GMP untuk menjaga kualitas dari hulu ke hilir,” ujarnya.
Tak hanya mengawasi mutu, Hutama juga terlibat dalam pengembangan produk baru, termasuk varian rasa cokelat, stroberi, dan moka, hingga pengembangan produk turunan seperti yoghurt, krim susu, dan keju mozzarella.
Sembari bekerja, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di UNS, memperdalam kajian keamanan pangan susu. Tesisnya yang berjudul “Analisis Pengendalian Titik Kritis terhadap Keamanan Pangan Produksi Susu Pasteurisasi di CV. Cita Nasional” menjadi bukti perpaduan antara praktik industri dan riset akademik.
Kembali ke Dunia Akademisi
Pada tahun 2025, Hutama kembali ke dunia kampus, kali ini sebagai dosen di Politeknik Negeri Jember, tepatnya di Program Studi Teknologi Pakan Ternak. Ia bergabung dalam tim teknis Tefa Milk, unit pengajaran berbasis industri yang menghasilkan produk susu pasteurisasi, susu steril, dan susu UHT.
“Bergabung dengan Tefa Milk membuat saya bisa menggabungkan dua hal yang saya cintai yakni praktik industri dan pendidikan. Di sini, saya tidak hanya mengajar, tapi juga melakukan riset, pendampingan produksi, dan inovasi produk bersama mahasiswa,” tutur Hutama dengan semangat.
Dalam perannya di Tefa Milk, ia ikut mengembangkan berbagai inovasi, seperti penerapan teknologi homogenizer untuk menjaga stabilitas susu dan mesin UHT berkapasitas 1.000 liter yang mampu menghasilkan produk susu tahan lama tanpa bahan pengawet.
Dedikasi untuk Ketahanan Pangan dan Vokasi Indonesia
Kini, dengan pengalaman lengkap di industri dan akademik, Hutama berkomitmen untuk terus berkarya bagi dunia pendidikan vokasi dan ketahanan pangan nasional. Ia percaya bahwa masa depan industri pangan Indonesia ada di tangan generasi muda yang paham sains sekaligus praktik lapangan.
“Sebagai akademisi, tugas saya bukan hanya mengajar, tapi juga menanamkan semangat riset dan inovasi kepada mahasiswa. Lewat Tefa Milk, kami ingin menunjukkan bahwa kampus vokasi mampu menciptakan produk nyata yang bermanfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Dari laboratorium kampus hingga pabrik susu dan kembali ke dunia akademisi, perjalanan Hutama Puranto Aji adalah kisah tentang konsistensi dan dedikasi. Ia membuktikan bahwa ilmu yang ditekuni dengan hati dapat menjadi sumber inspirasi, bukan hanya bagi mahasiswa Polije, tetapi juga bagi generasi muda Indonesia yang ingin berkontribusi melalui inovasi pangan berkelanjutan.