
Desa Karangpring di Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, dikenal sebagai sentra budidaya bunga mawar. Namun, potensi ini belum sepenuhnya berkembang menjadi daya tarik wisata yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Melihat kondisi tersebut, Kelompok Wanita Tani (KWT) Nawasena hadir sebagai penggerak perubahan dengan mengolah bunga mawar menjadi produk bernilai tambah seperti sirup, teh, selai, hingga diffuser.
Tim Pengabdian Politeknik Negeri Jember (Polije) yang terdiri dari dosen Jurusan Manajemen Agribisnis, yakni Sumarlina, Amalia Dwi Marseva, Aulia Nadhirah, Tia Sofiani Napitupulu, serta dosen Jurusan Produksi Pertanian, Elly Daru Ika Wilujeng, bersama lima mahasiswa, melakukan survei potensi kawasan. Hasilnya, Desa Karangpring dinilai sangat layak dikembangkan sebagai kawasan agroeduwisata kampung mawar.
“Desa Karangpring punya kebun mawar yang luas, monumen mawar, hingga area kuliner dan lapangan olahraga. Ditambah lagi, ibu-ibu KWT sudah memiliki produk olahan mawar yang bisa menjadi oleh-oleh khas kampung mawar,” ungkap Sumarlina.
Aulia Nadhirah menambahkan bahwa potensi tersebut perlu diperkuat dengan strategi pemasaran yang lebih baik.
Sebagai tindak lanjut, Tim Polije mengajak KWT Nawasena dan Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Karangpring melakukan studi banding ke Teaching Factory Kebun Inovasi Polije yang mengembangkan agroeduwisata petik jeruk.
“Meski baru dibuka 2024, wisata petik jeruk sudah diminati banyak pengunjung. Sederhana, tetapi pengalaman unik yang ditawarkan berhasil menarik wisatawan,” jelas Ujang, Manajer Teaching Factory.
Kolaborasi Polije dengan KWT Nawasena berlanjut dalam bentuk pelatihan dan pendampingan. Penguatan dilakukan pada aspek pengemasan produk, branding, serta strategi pemasaran offline dan online. Tim juga menyerahkan bantuan berupa portable booth, roll up banner, brosur, katalog, foto produk, e-brochure, e-catalog, dan konten digital untuk mendukung promosi.
Melalui langkah ini, Polije berharap percepatan realisasi Kampung Mawar Karangpring dapat segera terwujud.
“Kami ingin perempuan desa semakin berdaya, sehingga keberadaan agroeduwisata kampung mawar bisa memberi dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat,” tegas Sumarlina.