Dosen Polije Latih Perempuan Rambipuji Olah Limbah Rumah Tangga Jadi Pupuk Organik Cair

Tim dosen Politeknik Negeri Jember (Polije) memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) dari limbah rumah tangga kepada kelompok perempuan di Desa Rambipuji. Program yang diberi nama BERDIKARI (Bersama Membuat Pupuk Organik Cair) ini digagas oleh tiga dosen, yaitu Irma Harliningtyas, Jumiatun, dan Rindha Rentina Darah Pertami, sebagai upaya pemberdayaan perempuan sekaligus solusi ramah lingkungan untuk mengurangi sampah rumah tangga.

Irma Harliningtyas menjelaskan, bahan untuk membuat pupuk organik cair sangat mudah ditemukan di sekitar rumah.

“Pupuk organik cair bisa dibuat dari limbah sehari-hari seperti sisa makanan, buah busuk, atau sayuran layu. Kandungan alaminya justru kaya akan unsur hara yang dibutuhkan tanaman,” ungkapnya.

Menurutnya, pemanfaatan limbah rumah tangga tidak hanya membantu mengurangi tumpukan sampah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi.

“Dengan membuat POC sendiri, warga bisa menghemat biaya pupuk kimia, memperbaiki struktur tanah, dan menjaga kesuburan dalam jangka panjang,” tambah Jumiatun.

Dalam praktiknya, peserta diajarkan cara sederhana membuat POC dengan mencampurkan limbah rumah tangga yang telah dipotong kecil-kecil dengan molase, air cucian beras, dan bioaktivator EM4. Campuran tersebut difermentasi selama 14 hari hingga menghasilkan cairan dengan aroma khas tape yang siap digunakan sebagai pupuk.

Rindha Rentina menekankan bahwa pelatihan ini tidak hanya berfokus pada lingkungan, tetapi juga pada ketahanan pangan keluarga.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong ibu-ibu PKK untuk menanam sayuran sendiri di pekarangan rumah. Dengan pupuk organik cair, hasil tanaman bisa lebih sehat, ramah lingkungan, dan aman untuk anak-anak,” jelasnya.

Kegiatan BERDIKARI digelar pada Jumat siang di PKK Curah Ancar, Kecamatan Rambipuji, dan diikuti puluhan peserta dengan antusias. Para dosen berharap, keterampilan membuat pupuk organik cair ini bisa terus diterapkan oleh warga sehingga manfaatnya berkelanjutan.

“Meskipun limbah rumah tangga terlihat sepele, jika tidak dikelola bisa menimbulkan masalah serius. Dengan adanya program ini, limbah bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan,” tutup Irma.