
Masalah sampah masih menjadi tantangan besar bagi banyak kota, termasuk Bondowoso. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kyungpook National University (KNU), Korea Selatan, dan Politeknik Negeri Jember (Polije), Indonesia, berkolaborasi melalui World Friends Korea-ICT Volunteering Program (WFK-ICT) 2025 untuk menghadirkan solusi inovatif berupa Smart Trash Bin with Automatic Compactor System.
Proyek ini digarap oleh Team 6: 8-BIT IT, yang beranggotakan delapan mahasiswa. Dari KNU: Moon Byungsoo (Project Leader), Yu JiHwan (Design Leader), Kim Minseo (Technology Leader), dan Kim Ilyeo (Knowledge Leader). Dari Polije: Krisna Panca Dewa (Design Leader), Revi Ardiano Ramadhani (Technology Leader), Regina Qothrun Nada (Knowledge Leader), dan Rahmat Rendi Prayogo (Technology Leader).
Ide ini muncul setelah tim mengidentifikasi tiga masalah utama di Bondowoso: sampah berserakan di jalan, kurangnya tempat sampah umum, dan pemanfaatan volume tempat sampah yang tidak maksimal karena ruang kosong di dalamnya.
Smart Trash Bin dirancang dengan sensor ultrasonik untuk mendeteksi volume sampah. Jika sudah penuh, servo motor menggerakkan pelat pemadat untuk menekan sampah agar kapasitas bertambah. Sistem dilengkapi buzzer sebagai peringatan saat proses pemadatan berlangsung, serta LCD display yang menunjukkan status tempat sampah, mulai dari normal, sedang memadatkan, hingga selesai.
Tak hanya itu, tempat sampah pintar ini juga terkoneksi dengan halaman monitoring berbasis ESP microcontroller. Dengan fitur ini, petugas kebersihan bisa memantau kapasitas tempat sampah secara real-time, sehingga pengangkutan bisa lebih efisien dan mencegah penumpukan.
Dalam pengembangannya, tim melakukan optimasi mulai dari menstabilkan pembacaan sensor, menghemat daya servo motor, menyesuaikan kecerahan LCD, hingga modularisasi kode agar lebih efisien. Hasilnya, prototipe berjalan stabil dan siap diuji di lapangan.
“Kami ingin menciptakan solusi nyata yang tidak hanya membantu Bondowoso menjadi lebih bersih, tetapi juga memberi kontribusi pada misi global keberlanjutan,” ujar Moon Byungsoo, Project Leader tim dari KNU.
Meski masih ada ruang untuk perbaikan, seperti desain fisik yang lebih ramah pengguna dan sesuai ruang publik, proyek ini dinilai memiliki potensi besar untuk diadopsi dalam sistem pengelolaan sampah perkotaan.
Bagi Bondowoso, inovasi ini menjadi langkah menuju kota yang lebih bersih dan cerdas, sekaligus mendukung visi smart city dan pelestarian lingkungan. Proyek ini juga menegaskan bahwa kolaborasi mahasiswa lintas negara mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan lokal sekaligus berkontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan global.