Mahasiswa Polije dan KNU Ciptakan Sistem Penyeberangan Pintar untuk Tekan Kecelakaan di Bondowoso

Tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Jawa Timur, khususnya yang melibatkan pejalan kaki, mendorong kolaborasi mahasiswa Kyungpook National University (KNU), Korea Selatan, dan Politeknik Negeri Jember (Polije), Indonesia, untuk menghadirkan inovasi keselamatan jalan. Melalui World Friends Korea-ICT Volunteering Program (WFK-ICT) 2025, mereka mengembangkan Smart Pedestrian Crossing System berbasis IoT yang diuji coba di Bondowoso.

Data mencatat, sepanjang 2023 terjadi sekitar 31.922 kecelakaan di Jawa Timur, dengan 5.240 korban jiwa, tertinggi di Indonesia. Sementara itu, Kabupaten Bondowoso sendiri mencatat 514 kasus kecelakaan pada 2024, termasuk 92 korban meninggal dunia dan lebih dari 700 luka-luka. Sebagian besar insiden melibatkan pejalan kaki yang menyeberang di titik-titik rawan.

Menjawab persoalan ini, tim gabungan KNU–Polije yang beranggotakan Kim Mina, Sim Seyun, Son Minyoung, dan Noh Eunsoo dari KNU, bersama Aisyah Hamda, Adib Maulidan, Ganendra Justine, dan M. Anang Ma’ruf dari Polije, merancang sistem penyeberangan cerdas dengan sensor lalu lintas dan pendeteksi cuaca.

Sistem ini bekerja melalui tombol manual atau website. Sensor ultrasonik mendeteksi kendaraan dalam jarak lima meter. Jika ada kendaraan, lampu menampilkan tanda “Wait”. Begitu jalan aman, lampu kendaraan berubah merah, pagar pengaman menutup, dan lampu pejalan kaki menyala hijau.

Tak hanya itu, sistem juga dilengkapi fitur kenyamanan berbasis cuaca. Saat suhu melebihi 28°C, payung otomatis terbuka melindungi pejalan kaki dari terik matahari. Pada kondisi hujan, payung aktif memberikan perlindungan. Sementara itu, Safe Light menjaga visibilitas di malam hari agar pejalan kaki tetap terlihat jelas.

Studi kasus penerapan dilakukan di Jl. A. Yani, Bondowoso, salah satu jalan tersibuk dengan risiko kecelakaan tinggi. Lokasi ini dipilih karena banyak dilalui anak sekolah dan lansia.

“Melalui proyek ini, kami ingin menghadirkan solusi nyata bagi keselamatan warga Bondowoso. Tidak hanya aman untuk menyeberang, tapi juga nyaman dalam kondisi panas maupun hujan,” ujar Aisyah Hamda, mahasiswa Polije sekaligus anggota tim.

Dampak sistem ini diharapkan signifikan: menekan angka kecelakaan, meningkatkan rasa aman warga, sekaligus mendukung program Smart City Bondowoso. Bagi pemerintah daerah, data lalu lintas dan pejalan kaki yang dikumpulkan sistem ini juga dapat dimanfaatkan untuk perencanaan kota ke depan.

Proyek ini sekaligus mencerminkan semangat kolaborasi internasional yang menggabungkan inovasi teknologi dengan tanggung jawab sosial. Dengan pendekatan design thinking dari empati hingga uji coba mahasiswa KNU dan Polije menunjukkan bahwa kerja sama lintas negara mampu melahirkan solusi yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.