PETANI KINI BISA BELANJA BAHAN PERTANIAN SEKALIGUS BELAJAR KESEHATAN LEWAT MARKETPLACE DIGITAL

Sebuah inovasi digital hasil kolaborasi antara akademisi, dan pelaku industri kini hadir untuk menjawab tantangan di sektor pertanian. Lewat sebuah marketplace khusus pertanian, petani kini bisa membeli kebutuhan seperti pupuk, pestisida nabati, dan perlengkapan lainnya, sekaligus mendapatkan edukasi kesehatan secara langsung saat bertransaksi.

Program bertajuk “Kolaborasi Digital antara Akademisi, Petani, dan Sektor Swasta melalui Marketplace dengan Sistem Peringatan Dini Kesehatan” ini digagas oleh tim dari Politeknik Negeri Jember (Polije) dan dikembangkan bersama mitra industri CV. Nabilfi Diamond Sthanin Grow.

Marketplace ini tidak hanya fokus pada aspek jual beli, tetapi juga menyisipkan informasi edukatif dalam bentuk pop-up ringan. Materi yang disampaikan mencakup bahaya paparan bahan kimia, pentingnya penggunaan alat pelindung diri, serta cara mempertahankan kesuburan tanah.

“Ini bukan sekadar aplikasi belanja, tapi juga alat pembelajaran yang praktis bagi petani,” jelas Budi Fajar Supriyanto, dosen Politeknik Negeri Jember sekaligus project manager program ini.

Ia menegaskan bahwa pendekatan edukatif seperti ini sangat penting karena kesadaran petani terhadap kesehatan kerja masih rendah. Hal ini diamini oleh mitra industri, Habibi Dzakwan, yang menyoroti minimnya pengetahuan petani soal dampak jangka panjang pestisida.

“Tanah bisa jenuh, unsur haranya hilang, dan hasil panen menurun kalau tidak diatur dengan bijak,” ujarnya.

Program yang berlangsung sejak April hingga September 2025 ini diterapkan di Desa Punten, Kota Batu kawasan agraris yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi sayur dan buah. Salah satu petani muda setempat, Muklis, menyambut baik inovasi ini.

“Kadang kami beli pupuk murah tanpa tahu risikonya. Lewat sistem ini, kami bisa lebih paham dan berharap ada pelatihan lanjutan juga,” katanya.

Selain untuk edukasi, marketplace ini juga membuka ruang bagi UMKM pertanian untuk memasarkan produk mereka, sekaligus mendorong pertanian yang lebih sehat, legal, dan berkelanjutan.

“Kami ingin petani tak hanya lebih produktif, tapi juga sehat, cerdas, dan mandiri,” tutup Budi. (hnf)