POLIJE TINGKATKAN KUALITAS SDM MELALUI PELATIHAN PENGGUNAAN DOUBLE SEAM MACHINE DAN RETORT STERILISATOR DI TEFA

Dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusia serta memperkuat Teaching Factory (Tefa) sebagai model pembelajaran vokasi berbasis industri, Politeknik Negeri Jember (Polije) menggelar pelatihan bertajuk Training: Double Seam Machine and Sterilisator Band Retort Tefa Fish Canning and UHT. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan keterampilan teknis dalam pengoperasian mesin double seamer dan retort sterilizer, yang menjadi bagian penting dari proses produksi pangan olahan berkualitas.

Direktur Polije, Saiful Anwar, S.TP., M.P., menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa seluruh proses produksi di Tefa berjalan sesuai standar industri dan memenuhi regulasi keamanan pangan yang berlaku.

“Kualitas SDM merupakan faktor kunci dalam keberhasilan pengelolaan Tefa. Kami ingin agar setiap pelaksana di lapangan tidak hanya paham teori, tetapi juga memiliki kemampuan teknis yang memadai dalam menjalankan alat produksi sesuai standar operasional,” tegas Saiful.

Menurutnya, keberadaan Tefa tidak hanya berfungsi sebagai tempat praktik mahasiswa, tetapi juga sebagai unit usaha yang produknya harus memenuhi ketentuan legalitas seperti Standar Nasional Indonesia (SNI) dan izin edar resmi. Untuk itu, pelatihan ini menjadi tahap penting dalam proses sertifikasi mutu produk.

“Melalui pelatihan ini, kami menargetkan terbentuknya tim teknis yang kompeten dan siap mengawal proses produksi secara profesional. Dengan SDM yang handal, Tefa dapat menghasilkan produk olahan yang aman, higienis, dan sesuai dengan tuntutan industri,” tambahnya.

Pelatihan ini juga merupakan bentuk komitmen Polije dalam membangun ekosistem pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Dengan penguatan kapasitas SDM, institusi berharap Tefa dapat berperan lebih besar dalam mendukung kemandirian ekonomi kampus sekaligus menjadi sarana pembelajaran yang relevan dan aplikatif bagi mahasiswa.

“Kami ingin menjadikan Tefa sebagai wajah pendidikan vokasi yang modern, responsif terhadap kebutuhan industri, dan mampu mencetak lulusan siap kerja. Semua itu harus dimulai dari peningkatan kompetensi internal, termasuk pelatihan-pelatihan teknis seperti ini,” tutup Saiful.

Kegiatan pelatihan dilaksanakan secara intensif, dengan metode teori dan praktik langsung di lapangan, serta evaluasi kompetensi di akhir sesi. Hasil dari pelatihan ini diharapkan dapat segera diimplementasikan dalam proses produksi di Tefa Fish Canning dan Tefa UHT, guna menjamin kualitas dan keamanan produk secara berkelanjutan. (hnf)