
Lima mahasiswa dari Program Studi Teknik Komputer Kontrol (TKK) Politeknik Negeri Jember (Polije) telah menciptakan sebuah inovasi teknologi yang ditujukan untuk membantu masyarakat menghadapi ancaman banjir. Inovasi tersebut berupa alat pendeteksi banjir berbasis sensor ultrasonik HC-SR04 yang dilengkapi dengan sistem Internet of Things (IoT), dan dirancang untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat secara otomatis dan real-time.
Kelompok yang menamakan diri mereka Kelompok B5, terdiri dari Arya Wildan Ibrahim, Setia Hoga Alfinda, Anang Afrian Widodo, Zidan Nabil Rahmadani, dan Muhammad Aries Maulana. Mereka mengembangkan sistem ini dengan memanfaatkan modul mikrokontroler WeMos D1 Mini (ESP8266) sebagai otak utama. Sensor ultrasonik HC-SR04 berperan dalam mengukur ketinggian permukaan air, sementara data hasil pengukuran akan dikirim secara langsung ke dashboard monitoring berbasis web melalui koneksi Wi-Fi. Alat ini juga dilengkapi dengan indikator LED dan buzzer untuk memberikan peringatan visual dan suara di lokasi kejadian.

Menurut Arya Wildan Ibrahim selaku ketua kelompok, tujuan utama dari pembuatan alat ini adalah untuk memberikan peringatan dini yang dapat menyelamatkan nyawa serta mengurangi kerugian materi akibat banjir.
“Tujuan kami adalah meminimalisasi dampak bencana banjir dengan sistem peringatan dini yang cepat dan akurat,” ujar Arya.
Arya berharap alat yang mereka buat dapat diimplementasikan di berbagai titik wilayah rawan banjir.
“Kami berharap alat ini bisa digunakan di berbagai daerah rawan banjir agar warga bisa lekas tanggap dan menyelamatkan diri lebih awal.”
Sistem ini dirancang untuk memantau ketinggian air secara berkala dan menentukan status berdasarkan ambang batas yang telah ditentukan. Ketika sistem mendeteksi peningkatan permukaan air yang berbahaya, alat ini akan secara otomatis memperingatkan pengguna dengan menyalakan LED merah dan membunyikan buzzer. Semua proses berjalan secara otomatis dan terus berulang dalam selang waktu tertentu.
Inovasi ini tidak hanya menawarkan solusi teknis, tetapi juga mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesiapsiagaan bencana. Selain itu, alat ini juga mendukung pengambilan keputusan cepat oleh pihak terkait seperti pemerintah dan relawan saat menghadapi potensi banjir. Dengan biaya produksi yang efisien dan teknologi yang dapat dijangkau, alat ini berpotensi besar untuk diterapkan di berbagai wilayah rawan banjir di Indonesia. (hnf)