
Inovasi pangan kembali hadir dari kalangan akademisi muda. Mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Agroindustri Politeknik Negeri Jember (Polije) menciptakan produk mi sehat berbahan dasar limbah pertanian. Produk bernama Greenlicious ini menggabungkan tepung kulit ari kedelai sebagai bahan utama mi dan abon dari bonggol pisang sebagai topping, menjadikannya alternatif makanan sehat dan berkelanjutan.
Inisiatif ini berawal dari tugas perkuliahan pada semester ketiga yang mengharuskan mahasiswa mengunjungi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menganalisis potensi serta tantangan produksi. Salah satu anggota tim, Nabela Putri Hapsari, mengisahkan bahwa kunjungan ke sebuah UMKM Tempe di Jember membuka peluang untuk menciptakan inovasi berbasis limbah pangan.
“Waktu semester tiga kami diberi tugas untuk mengunjungi UMKM, dan kami memilih UMKM Tempe. Ternyata, kulit ari kedelainya masih belum termanfaatkan dengan baik. Daripada terbuang, kami berpikir untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai, dan dari situ lahirlah ide Greenlicious,” ujar Nabela
Dengan pendekatan zero waste dan pemanfaatan potensi lokal, Greenlicious dirancang untuk menjawab kebutuhan pangan sehat sekaligus mendukung kelestarian lingkungan. Kulit ari kedelai diketahui memiliki kandungan protein dan serat yang lebih tinggi dibandingkan tepung terigu biasa, sehingga cocok untuk dikonsumsi masyarakat yang peduli terhadap kesehatan pencernaan.
“Keunggulan mi kami ada pada kandungan proteinnya yang tinggi dan seratnya yang bisa membantu melancarkan pencernaan. Selain itu, kami juga menggunakan bumbu alami dan tanpa pengawet, jadi lebih sehat,” jelasnya.
Tak hanya menyehatkan, Greenlicious juga hadir dengan cita rasa unik. Topping abon yang terbuat dari bonggol pisang diolah dengan rempah-rempah khas Indonesia seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, cabai merah, dan lengkuas, memberikan aroma serta rasa yang khas. Produk ini tersedia dalam beberapa varian, seperti mi kering (instan) seharga Rp 8.000, mi basah dengan tambahan pangsit goreng seharga Rp 9.000, dan paket Greenlicious lengkap dengan es teh seharga Rp 12.000.
Saat ini, pemasaran Greenlicious masih dilakukan secara terbatas di kalangan mahasiswa dan melalui event kampus. Namun, tim pengembang memiliki harapan besar agar produk ini bisa dikenal lebih luas dan dipasarkan secara massal.
“Harapannya, Greenlicious bisa masuk ke pasar yang lebih besar, tidak hanya di lingkungan kampus saja. Kami ingin produk ini menjadi inspirasi bahwa limbah pun bisa diolah menjadi makanan sehat dan bernilai,” ujar Nabela optimistis.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pola makan sehat dan keberlanjutan lingkungan, Greenlicious hadir sebagai solusi yang tidak hanya inovatif, tapi juga edukatif. Produk ini bisa menjadi bukti bahwa kreativitas mahasiswa dapat berkontribusi nyata dalam menyelesaikan masalah pangan dan limbah secara bersamaan. (hnf)